Buruh Tarakan Turun ke Jalan, Desak Evaluasi UMSK 2026 yang Lebih Adil

Ekonomi

Puluhan buruh di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, kembali menggelar aksi demonstrasi menuntut perbaikan rumusan penetapan Upah Minimum Sektoral Kota (UMSK) tahun 2026. Aksi yang berlangsung damai di depan kantor pemerintah daerah ini mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap sistem penghitungan upah yang dinilai tidak lagi relevan dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan hidup layak para pekerja.

Para buruh menilai, rumusan UMSK saat ini masih mengacu pada komponen kebutuhan dasar yang tidak mencerminkan realitas inflasi, kenaikan harga pangan, serta biaya transportasi dan perumahan di Tarakan. “Kami bukan hanya butuh cukup untuk makan, tapi juga untuk menyekolahkan anak, berobat, dan menabung untuk masa depan,” ujar salah satu perwakilan serikat pekerja. Mereka menuntut agar pemerintah daerah melibatkan lebih banyak pihak dalam proses musyawarah penetapan UMSK, termasuk akademisi dan lembaga independen, agar hasilnya benar-benar adil dan transparan.

Tuntutan tersebut semakin menguat di tengah tekanan ekonomi global dan kenaikan biaya operasional industri lokal. Para buruh khawatir, jika UMSK 2026 tidak segera direvisi dengan pendekatan yang lebih manusiawi, maka daya beli pekerja akan terus merosot, berdampak pada perlambatan ekonomi mikro di tingkat kota.

Di tengah ketidakpastian ini, banyak buruh mencari alternatif tambahan penghasilan yang bisa diandalkan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan platform digital yang menawarkan peluang cuan cepat dan aman seperti Indobet. Meski demikian, tuntutan utama mereka tetap jelas: perubahan struktural dalam sistem pengupahan agar setiap pekerja di Tarakan bisa hidup dengan layak dan bermartabat.